Senin, 07 Januari 2013

Makalah tentang Staphylococcus Aureus


BAB I PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Kebanyakan penyakit bakerial dimulai dengan kolonisasi bakteri. Pengecualian terhadap cara ini adalah pada bakteri yang menyebabkan penyakit dengan menghasilkan eksotoksin ketika perkembangannya. Eksotoksin teringesti dan bertanggungjawab terhadap gejala penyakit. Bakteri penyebab toksin merupakan salah satu bakteri yang dapat membawa dampak terhadap masalah kesehatan dan kerugian ekonomi terutama disebabkan oleh diare, nekrotik enteritis, hepatitis, dan renitis. Untuk mendapatkan metode pengendalian dan pencegahan infeksi suatu penyakit haruslah diketahui interaksi antara agen penyebab infeksi dengan hospes.
Masalah kesehatan sampai saat ini, merupakan masalah yang cukup serius untuk ditangani terutama penyakit yang disebabkan oleh bakteri. Seperti halnya bakteri Staphylococcus aureus yang banyak ditemukan padapada tubuh manusia, seperti di ingus, dahak, tangan, kulit, luka terinfeksi, bisul dan jerawat, serta pada feses dan rambut. Lebih jauh, keberadaan bakteri ini, justru diperkirakan terdapat pada 20 persen orang dengan kondisi kesehatan yang tampaknya baik.
Sementara itu, makanan dapat terkontaminasi bakteriStaphylococcus ini adalah setelah proses pemasakan, dari pekerja yang terinfeksi. Adapun jenis makanan yang dapat menjadi sumber infeksi adalah makanan hasil olahan daging/unggas, ham, krim, susu, keju, saus, kentang, ikan dan telur masak, serta makanan dengan kandungaan protein yang tinggi lainnya.
Secara umum, bakteri ini tidak tahan panas. Namun, racun yang dihasilkannya sangat tahan panas, sehingga tidak dapat dihancurkan dengan pemanasan yang biasa digunakan pada pemasakan. Bahayanya, racun tersebut biasanya tidak menyebabkan perubahan tekstur, warna, bau, kenampakan, ataupun perubahan rasa makanan, sehingga tidak dapat terlihat secara fisik. Kondisi seperti inilah yang sering kali mengecohkan konsumen.
Oleh karena itu, masalah mengenai penyakit bakteri sangat perlu dilakukan suatu penelitian penelitian sehingga dapat mengetahui apa obat dari bakteri pathogen tersebut yang dapat merusak kesehatan masyarakat.


B.  Rumusan Masalah
1.    Apa yang dimaksud dengan Staphylococcus aureus ?
2.    Bagimana struktur dari Staphylococcus aureus ?
3.    Bagimana Patogenitas dari Staphylococcus aureus ?


C.  Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui mekanisme dan dampak dari Bakteri Staphylococcus aureus bagi tubuh manusia !

D.  Manfaat Penulisan
Adapun manfaat yang dapat diambil dari penulisan makalah sebagai berikut :
1.    Untuk memberikan wawasan kepada kami penulis dan khususnya bagi pembaca makalah ini agar mendapat pemahaman yang cukup mengenai Bakteri Staphylococcus aureus dan dampak bakteri tersebut terhadap tubuh manusia.
2.    Sebagai wahana untuk mengetahui mekanisme dari Bakteri Staphylococcus aureus dalam tubuh manusia, sehingga dapat menyebabkan penyakit.      











BAB II PEMBAHASAN

A.        Pengertian Bakteri Staphylococcus aureus
Staphylococcus aureus merupakan bakteri Gram Positif, tidak bergerak, tidak berspora dan mampu membentuk kapsul, berbentuk kokus dan tersusun seperti buah anggur. Ukuran Staphylococcus berbeda-beda tergantung pada media pertumbuhannya. Apabila ditumbuhkan pada media agar, Staphylococcusmemiliki diameter 0,5-1,0 mm dengan koloni berwarna kuning. Dinding selnya mengandung asam teikoat, yaitu sekitar 40% dari berat kering dinding selnya. Asam teikoat adalah beberapa kelompok antigen dari Staphylococcus. Asam teikoat mengandung aglutinogen dan N-asetilglukosamin.
Staphylococcus aureus adalah bakteri aerob dan anaerob, fakultatif yang mampu menfermentasikan manitol dan menghasilkan enzim koagulase, hyalurodinase, fosfatase, protease dan lipase. Staphylococcus aureus mengandung lysostaphin yang dapat menyebabkan lisisnya sel darah merah. Toksin yang dibentuk oleh Staphylococcus aureus adalah haemolysin alfa, beta, gamma delta dan apsilon. Toksin lain ialah leukosidin, enterotoksin dan eksfoliatin. Enterotosin dan eksoenzim dapat menyebabkan keracunan makanan terutama yang mempengaruhi saluran pencernaan. Leukosidin menyerang leukosit sehingga daya tahan tubuh akan menurun. Eksofoliatin merupakan toksin yang menyerang kulit dengan tanda-tanda kulit terkena luka bakar.
Staphylococcus aureus   adalah bakteri bola berpasang-pasangan atau berkelompok seperti buah anggur dengan diameter antara 0,8 mikron-1,0 mikron, non motil, tidak berspora dan bersifat gram positif. Namun kadang-kadang ada yang bersifat gram negatif yaitu pada bakteri yang telah difagositos atau pada biakan tua yang hampir mati.
Menurut SNI 01-3141-1998, jumlah cemaran mikroba total yang diperbolehkan maksimal 1 x 106 CFU/ml susu dan sel somatik maksimal 4 x 104 sel/ml susu.
Menurut SNI 01-3553-1996 jumlah mikroba aerob maksimal dalam air yang layak minum adalah 1,0 x 105 CFU/ml dan E.coli patogen 0 CFU/100 ml. SNI 01-6366-2000 mensyaratkan pemeriksaan TPC perlu dilakukan untuk mengetahuikualitas susu. Jumlah TPC >106 cfu/ml menyebabkan mikroba cepat berkembang dan toksin sudah terbentuk.

B.        Struktur Bakteri
Struktur bakteri atau struktur metaboliknya terbagi atas sebagai berikut :

a.    Metabolik eksotoksin
Kebanyakan toksin protein dipanggil eksotoksin kerana ia dibebaskan dari bakteria dan bertindak ke atas sel hos jauh dari tempat ia dihasilkan. Enterotoksin ialah satu kumpulan eksotoksin yang lazimnya bertindak ke atas saluran gastrousus. Kebanyakan eksotoksin dihasilkan semasa fasa eksponen pertumbuhan dan penghasilannya adalah spesifik untuk sesuatu strain. Toksin bakteria adalah antara racun paling kuat yang diketahui. Toksin-toksin protein mempunyai persamaan ciri dengan enzim dan amat spesifik terhadap substrat tertentu serta mekanisme tindakan masing-masing. Substrat ini mungkin terdiri dari komponen sel tisu, organ atau kecair tubuh.

Eksotoksin bersifat antigenik. Artinya, secara in vivo, aktivitasnya dapat dinetralkan oleh antibody yang spesifik untuk eksotoksin tersebut. Beberapa eksotoksin memiliki aktivitas sitotoksik yang sangat spesifik. Misalnya, toksin botulin yang hanya menyerang syaraf. Beberapa eksotoksin yang lain memiliki spektrum aktivitas yang lebih lebar dan menyebabkan kematian (nekrosis) dari beberapa sel dan jaringan (non spesifik) misalnya toksin yang diproduksi oleh staphylococci, streptococci, clostridia, dan sebagainya. Toksin dengan spektrum aktivitas yang lebar ini biasanya merusak membran sel inang dan menyebabkan kematian sel karena terjadinya kebocoran isi sel.Sitotoksin menyebabkan kerusakan secara intraseluler (didalam sitoplasma sel inang).

b.    Metabolik Endotoksin
Endotoksin adalah sebahagian dari dinding sel luar bakteria dan biasanya dikaitkan dengan bakteria Gram negatif kerana ia membentuk komponen membran luar sel bakteria tersebut. Aktiviti biologi endotoksin dikaitkan dengan lipopolisakarid (LPS). Ketoksikan LPS bergantung kepada komponen lipid A dan keimunogenan bergantung kepada komponen polisakarid. Antigen dinding sel (antigen O) bakteria Gram negatif merupakan komponen LPS. LPS sering terlibat dalam proses patologi bakteria Gram negatif. Struktur dinding sel bakteria Gram negatif ditunjukkan dalam rajah berikut:
Bakteria Gram negatif membebaskan kuantiti kecil endotoksin dalam bentuk larut tetapi sebahagian besarnya tergabung kepada sel dan dibebaskan apabila sel itu menjalani lisis. Jika dibandingkan dengan eksotoksin bakteria, endotoksin jauh kurang toksik dan kurang spesifik dalam tindakannya (kerana ia tidak bertindak sebagai enzim). Endotoksin adalah stabil haba (30 min, 100C).

C.        Patogenitas

Sebagian bakteri Staphylococcus aureus merupakan flora normal pada kulit, saluran pernapasan, dan saluran pencernaan pada manusia. Bakteri ini juga ditemukan di udara dan lingkungan sekitar Staphylococcus aureus yang patogen bersifat infasi, menyebabkan hemolisi, membentuk koagulase, dan mampu meragikan manitol.
Infeksi Staphylococcus aureus di tandai dengan kerusakan jaringan yang disertai abses bernanah. Beberapa penyakit infeksi yamh disebabkan Staphylococcus aureus adalah jerawat, bisul, impetigo dan infeksi luka. Infeksi yang lebih berat diantaranya pneumonia, mastitis, plebitis, meningitis, infeksi saluran kemih, osteomielitis, dan endokarditis. Staphylococcus aureus juga dapat menyebabkan utama infeksi nosokomial, keracunan makanan, dan sindroma syok toksik.
Bisul atau abses setempat, seperti jerawat dan borok merupakan infeksi kulit di daerah folikel rambut, kelenjar sebasea atau kelenjar keringat. Mula-mula terjadi nekrosis jaringan setempat, lalu terjadi kougulasi fibrin di sekitar lesi dan pembuluh getah bening, sehingga membentuk dinding yang membatasi oroses nekrosis. Infeksi dapat menyebar ke bagian tubuh lain melalui pembuluh getah bening dan pembuluh darah, sehingga terjadi peradangan pada vena, trombosis, bahkan bakterikimia. Bakterikimia dapat menyebabkan terjadinya endokarditis osteomielitis akut hematogen, meningitis atau infeksi paru-paru.
Kontaminasi Langsung Staphylococcus aureus pada luka terbuka (seperti luka pasca bedah) atau infeksi setelah trauma (seperti osteomilitis kronis setelah fraktur terbuka) dan meningitis setelah fraktur tengkorak, merupakan penyebab infeksi nosokomial.
Keracunan makanan dapat disebabkan kontaminasi enterotoksin dari Staphylococcus aureus. Waktu onset dari gejala keracunan biasanya cepat dan akut, tergantung pada daya tahan tubuh dan banyaknya toksin yang termakan. Jumlah toksin yang dapat menyebabkan keracunan adalah 1,0 µg/gr makanan. Gejala keracunan ditandai dengan rasa mual, muntah-muntah dan diare yang hebat tanpa disertai demam.
Sindroma Syok Toksik (SST) pada infeksi Staphylococcus aureus timbul secara tiba-yiba dengan demam yang tinggi, muntah, diare, mielgia, ruam dan hipotensi, dengan gagal jantung dan dinjal pada kasus yang berat. SST sering terjadi dalam lima hari permulaan haid pada wanita muda yang menggunakan tampon atau pada anak-anak dan pria dengan luka yang terinfeksi Staphylococcus aureus, dapat diisolasi dari vagina, tampon atau luka infeksi lainnya, tetapi praktis tidak ditemukan dalam aliran darah.

D.        Morfologi Staphylococcus aureus
Bentuknya bulat atau lonjong (0,8 sampai 0,9), jenis yang tidak bergerak, tidak berspora dan gram positif. Tersusun dalam kelompok seperti buah anggur. Pembentukan kelompok ini terjadi karena pembelahan sel terjadi dalam tiga bidang dan sel anaknya cenderung dekat dengan sel induknya. Bersifat aerob dan tumbuh baik pada pembenihan yang sederhana pada temperatur optimum 37oC dan pH 7,4.  Merupakan salah satu bakteri yang cukup kebal diantara mikroorganisme yang tidak berspora tahan panas pada suhu 60oC selama 30 menit, tahan terhadap fenol selama 15 menit.
Scientific Classificatin
Domain           :               Bacteria
Kingdom          :               
Eubacteria
Phylum            :               
Firmicutes
Class               :               
Bacilli
Order               :               
Bacillales
Family             :               
Staphylococcaceae
Genus             :               
Staphylococcus
Species           :               S. Aureus
Bentuknya Coccus/bulat, Ukurannya berdiameter 0,8-1 µm Susunannya 2-2, 4-4, bergerombol seperti buah anggur.
E.        Faktor Virulensi Staphylococcus aureus 
S.  aureus dapat  menimbulkan  penyakit  melalui  kemampuannya  tersebar 
luas dalam jaringan dan melalui pembentukan berbagai zat ekstraseluler. Berbagai
zat  yang  berperan  sebagai  faktor  virulensi  dapat  berupa  protein,  termasuk  enzim
dan toksin, contohnya :
1.  Katalase
Katalase adalah enzim yang berperan pada daya tahan bakteri terhadap proses fagositosis.  Tes  adanya  aktivi tas  katalase  menjadi  pembeda  g enus Staphylococcus dari Streptococcus (Ryan et al., 1994; Brooks et al., 1995).
2.  Koagulase
Enzim  ini  dapat  menggumpalkan plasma  oksalat  atau  plasma  sitrat,  karena  adanya  faktor  koagulase  reaktif  dalam  serum  yang  bereaksi  dengan  enzim tersebut.  Esterase  yang  dihasi lkan  dapat  meningkatkan  aktivitas penggumpalan,  sehingga  terbentuk  deposit  fibrin  pada  permukaan  sel  bakteri yang dapat menghambat fagositosis (Warsa, 1994).
3.  Hemolisin
Hemolisin  merupakan  toksin  yang  dapat  membentuk  suatu  zona  hemolisis  di sekitar  koloni  bakteri. Hemolisin  pada S.  aureus terdiri  dari  alfa  hemolisin, beta  hemolisisn,  dan  delta  hemolisisn.  Alfa  hemolisin  adalah  toksin  yang bertanggung  jawab  terhadap  pembentukan  zona  hemolisis  di  sekitar  koloni S.  aureus pada  medium  agar  darah.  Toksin  ini  dapat  menyebabkan  nekrosis pada  kulit  hewan  dan  manusia. Beta  hemolisin  adalah  toksin  yang  terutama dihasilkan Stafilokokus yang  diisolasi  dari  hewan,  yang  menyebabkan  lisis pada  sel  darah  merah  domba  dan  sapi.  Sedangkan  delta  hemolisin  adalah toksin yang dapat melisiskan sel darah merah manusia dan kelinci, tetapi efek lisisnya kurang terhadap sel darah merah domba (Warsa, 1994).
4.  Leukosidin
Toksin  ini  dapat  mematikan  sel  darah  putih  pada  beberapa  hewan.  Tetapi perannya  dalam  patogenesis  pada  manusia  tidak  jelas,  karena Stafilokokus patogen  tidak  dapat  mematikan sel-sel  darah  putih  manusia  dan  dapat difagositosis (Jawetz et al., 1995).  
5.  Toksin eksfoliatif
Toksin  ini  mempunyai  aktivitas  proteolitik  dan  dapat  melarutkan  matriks mukopolisakarida  epidermis,  sehingga  menyebabkan  pemisahan  intraepitelial pada ikatan sel di stratum granulosum. Toksin eksfoliatif merupakan penyebab Staphylococcal  Scalded  Skin  Syndrome,  yang  ditandai  dengan  melepuhnya kulit (Warsa, 1994).
6.  Toksin Sindrom Syok Toksik  (TSST)
Sebagian  besar  galur S.  aureus yang  diisolasi  dari  penderita sindrom  syok toksik  menghasilkan  eksotoksin  pirogenik.  Pada  manusia,  toks in  ini menyebabkan  demam,  syok,  ruam kulit,  dan  gangguan  multisistem    organ dalam tubuh (Ryan, et al., 1994; Jawetz et al., 1995).
7.  Enterotoksin
Enterotoksin adalah enzim  yang tahan panas dan  tahan terhadap suasana  basa di  dalam  usus.  Enzim  ini  merupakan  penyebab  utama  dalam  keracunan makanan,  terutama  pada  makanan  yang  mengandung  karbohidrat  dan  protein (Jawetz et al., 1995).
F.      Pengujian-pengujian Bakteri Staphyllococus aureus
a.      Menggunakan Media MSA (Manitol Salt Agar)
Spesimen  mula-mula  ditanam  pada  media tryprone Hewit broth (THB), diikubasikan pada suhu 37°C, selama 24 jam.Koloni bakteri yang tumbuh pada media THB ditanam ulang ke Plat Agar Darah dan diikubasikan pada suhu 37°C selama 24 jam. Koloni bakteri yang bersifat mukoid selanjutnya ditanam ulang pada  media manitol salt agar (MSA) pada suhu 37°C, selama 24 jam. Adanya koloni S.  aureus  ditandai  dengan  perubahan warna media MSA dari merah menjadi kuning.

b.    Uji Katalase
Selama respirasi aerobik (proses fosforilasi oksidatif) mikroorganisme yang menghasilkan peroksida, bahkan ada yang menghasilkan superoksida yang sangat beracun. Senyawa ini dalam jumlah besar dapat menyebabkan kematian pada mikroorganisme. Senyawa ini dihailkan oleh mikroorganisme aerobik fakultatif aerob maupun mikroaerofilik yang menggunakan jalur respirasi aerobik. Satu ose dari koloni berwarna kuning dari media MSA dicampur dengan enzim katalase pada  kaca  objek.  Adanya  S.  aureus  ditandai terbentuknya gelembung gas
c.    Uji Koagulase Plasma
Satu  mililiter plasma darah kelinci dalam tabung reaksi  dicampur dengan 1  ose koloni bakteri, diinkubasikan pada   370C selama 24 jam.  Staphylococcus aureus  akan  meng-gumpalkan plasma darah kelinci.

b.         Penentuan Aktivitas  Hemolisin
Staphylococcus aureus   ditanam  pada  plat  agar darah  (agar  base,  Oxoid,  Jerman),  dan selanjutnya diinkubasi selama 18-24 jam pada suhu 37ºC. Adanya aktivitas hemolisin ditandai dengan adanya zona hemolisis  pada plat agar darah .Staphylococcus. aureus yang menghasilkan alfa-hemolisin akan membentuk zona  terang  di sekitar    koloni,  yang menghasilkan  beta-hemolisin  akan  membentuk  zona agak gelap di sekitar koloni, dan yang  menghasilkan  gama-hemolisin  tidak membentuk zona hemolisis di sekitar koloni. Sementara itu, kuman yang memproduksi kombinasi alfa-dan beta-hemolisin akan tampak zona gelap dan terang di sekitar koloni.
c.         Uji Hidrofobisitas
Bakteri ditanam dalam 5 ml  kaldu Brain infusión (BHI)  dan diinkubasikan pada 37ºC selama 24 jam. Kultur bakteri kemudian divortex, dipindahkan kedalam tabung sentrifus dan disentrifus 5 menit pada kecepatan 5.000 rpm. Supernatan dibuang, dan pellet dicuci 3 kali dengan PBS.


 Pellet bakteri disuspensikan dengan  larutan  BaSO4,  konsentrasi  10 8  sel bakteri per ml. Sebanyak 50 µl suspensi bakteri dicampur dengan 50 µl Amonium Sulfat dengan konsentrasi 1,2M, 1,6, 2M, 2,4M dan 3,2M pada objek glas, dan diaduk dengan tusuk gigi steril. Uji hidrofobisitas dinyatakan positif bila terjadi agregasi bakteri yang tampak seperti pasir putih setelah campuran diaduk


d.        Uji Hemaglutinasi
Darah  kelinci  yang  diambil  dengan antikoagulan  0,2  M  sodium  sitrat  pH  5,2, disentrifus dan dicuci dua kali dengan 0,15 M NaCl.  Suspensi  sel  darah  merah  2%  dibuat dalam  larutan 0,15 M NaCl. Sebanyak  20   µl suspense bakteri yang mengandung sekitar 109 bakteri/ml dalam 0,15 NaCl dicampur dengan 20   µl suspensi sel darah merah kelinci 2%  di atas gelas obyek. Gelas objek digoyang selama 30  detik  dan  reaksi  hemaglutinasi  diamati Tingkat  hemaglutinasi  dinyatakan   sebagai berikut: ++ reaksi kuat, + reaksi sedang.

G.        Cara Penularan dan resistensi antibiotic
a.            Cara Penularan
Staphylococcus aureus banyak bakteri yang dapat hidup di tubuh orang. Banyak orang yang sehat membawa Staphylococcus aureus tanpa terinfeksi. Fakta, 25-30 % atau 1/3 bagian tubuh kita terdapat bakteri Staphylococcus aureus. Yang terdapat pada permukaan kulit, hidung, tanpa menyebabkan infeksi. menyebabkan infeksi. Ini dikenal sebagai koloni bakteri. Jika sengaja dimasukan dalam tubuh melalui luka akan menyebabkan infeksi. Biasanya sedikit dan tidak membutuhkan perawatan khusus, Kadang-kadang, Staphylococcus aureus dapat menyebabkan masalah serius seperti luka atau pneumonia (radang paru-paru)

Penularan terjadi karena mengkonsumsi produk makanan yang mengandungenterotoksin staphylococcus. terutama yg diolah dengan tangan, baik yang tidak segera dimasak dengan baik ataupun karena proses pemanasan atau penyimpanan yang tidak tepat. Jenis makanan tersebut seperti pastries, custard, saus salad, sandwhich, daging cincang dan produk daging. Bila makanan tersebut dibiarkan pada suhu kamar untuk beberapa jam sebelum dikonsumsi, maka staphylococcus yang memproduksi toksin akan berkembang biak dan akan memproduksi toksin tahan panas.

Masa inkubasi mulai dari saat mengkonsumsi makanan tercemar sampai dengan timbulnya gejala klinis yang berlangsung antara 30 menit sampai dengan 8 jam, biasanya berkisar antara 2-4 jam.
                    
b.            Resistensi Antibiotik
Strain staphylococcus aureus yang multiresisten telah banyak dilaporkan dengan frekuensi peningkatan resistensi yang cukup tinggi termaksud resisten terhadap methicillin, lincosamide, macrolide, aminoglikosida, atau kombinasi dari berbagai antimikroba 

MRSA (Methicillin-Resistant-Staphylococcus aureus) adalah penghambat Staphylococcus aureus yang bersifat pekah terhadap methicillin dan berhubungan beta-lactam zat antibiotic ( penisilin, oxacillin, amoxacillin). MRSA sudah meningkatkan resistant yang tidak hanya ke beta-lactam zat antibiotic, tetapi beberapa kelas zat antibiotic lainya. Beberapa MRSA adalah bersifat resistan untuk satu atau dua antibiotic yang mencangkup vancomycin.  VRSA ( Vancomycin-Resistant Staph aureus) atau VRSA adalah dapat memberikan zona hambat pada pertumbuhan bakteri S. aureus

Table . MIC50 and MIC90 of staphylococcal antibiotics against community-acquired methicillin resistantStaphylococcus aureus (CA-MRSA) from Europe (46 isolates), United States (22 isolates), and Oceania (13 isolates)
Isolates from Europe
Isolates from United States and Oceania
Antibiotics
MIC50 mg/L
MIC90 mg/L
Range mg/L
MIC50 mg/L
MIC90 mg/L
Range mg/L
Benzyl-penicillin
8
8
0.25-8
16
16
4-32
Oxacillin
16
32
4-64
64
64
16-64
Kanamycin
128
128
128
2
2
2
Tobramycin
0.25
0.25
0.25
0.25
0.25
0.25
Gentamicin
1
1
0.5-1
1
1
0.5-2
Erythromycin
0.5
128
0.25-128
0.25
0.5
0.25-128
Lincomycin
0.5
0.5
0.5-32
0.5
0.5
0.25-32
Pristinamycin
0.5
0.5
0.12-1
0.5
0.5
0.12-1
Tetracycline
16
16
0.25-16
0.25
0.25
0.25-32
Minocycline
0.25
0.25
0.25
0.25
0.25
0.25
Chloramphenicol
4
4
4-8
4
8
4-8
Ofloxacin
0.12
0.12
0.12-0.5
0.12
0.25
0.12-1
Fusidic acid
4
4
0.12-64
0.12
0.12
0.12
Vancomycin
0.5
0;5
0.5-1
0.5
0;5
0.5-1
Teicoplanin
0.5
0.5
0.25-0.5
0.25
0.5
0.25-0.5
Fosfomycin
2
2
0.25-2
1
2
0.25-2
Rifampin
0.12
0.12
0.12
0.12
0.12
0.12
Co-trimoxazole
0.5/9.5
0.5/9.5
0.5/9.5
0.5/9.5
0.5/9.5
0.5/9.5
Linezolid
0.5
1
0.25-1
0.5
1
0.25-1
Mupirocin
0.12
0.12
0.12-8
0.12
0.12
0.12

H.        Cara Pengendalian Infeksi Staphylococcus aureus

Untuk pengendalian Staphylococcus aureus ( mencakup MRSA) melalui human-to-human, walaupun beberapa dokter hewan sudah menemukan yang dapat menyebabkan infeksi ke host, dengan pencemaran lingkungan. Penekanan pada  cuci tangan basis dasar teknik kemudian efektif mencegah transmisiStaphylococcus aureus. Penggunaan sarung tangan dapat sehingga mengurangi kontak skin-to-skin.
Penggunaan Alkohol telah terbukti sanitizer melawan MRSA. Quaternary ammonium dapat digunakan bersama dengan alkohol untuk membersihkan dan mencegahan infeksi nosocomial. Nonprotein amino L-Homoarginine asam adalah suatu penghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus seperti halnya Candida albicans, hal ini diasumsikan untuk;menjadi suatu antimetabolite arginine. BBC melaporkan bahwa suatu penyemprotan alat penguap beberapa kotoran minyak ( mencakup pohon teh oil) ke dalam atmospir mengurangi 90% peningkatan bakteri di udara dan mengendalikan MRSA yang dapat menyebabkan infeksi/peradangan.

I.          Pengobatan
Pengobatan  terhadap  infeksi S.  aureus dilakukan  melalui  pemberian antibiotik,  yang  disertai  dengan  tindakan  bedah,  baik  berupa  pengeringan  abses maupun  nekrotomi.  Pemberian  antiseptik  lokal  sangat  dibutuhkan  untuk menangani  furunkulosis  (bisul)  yang  berulang.  Pada  infeksi  yang  cukup berat, diperlukan  pemberian  antibiotik  secara  oral  atau  intravena, seperti  penisilin, metisillin,  sefalosporin,  eritromisin,  linkomisin,  vankomisin,  dan  rifampisin. Sebagian  besar  galur Stafilokokus  sudah  resisten  terhadap  berbagai  antibiotik
tersebut,  sehingga  perlu  diberikan  antibiotik  berspektrum  lebih  luas  seperti  kloramfenikol, amoksilin, dan tetrasiklin.

J.         Toksin dan Enzim
S.  aureus dapat menimbulkan penyakit melalui kemampuan berkembang biak dan menyebar luas dalam jaringan dan melalui pembentukan berbagai zat ekstraseluler. Beberapa zat ini adalah enzim, sedangkan yang lain diduga toksin, meskipun berfungsi sebagai enzim kebanyakan toksin berada dibawah pengendalian genetik plasmid atau DNA yang terbentuk cerkuler dan terdapat di dalam kromosom.

Hemolisa : S. aureus dapat dibedakan menjadi 3 jenis hemolisa yang disebut alfa, beta dan gama. Semua Hemolisa ini antigennya berbeda. Hemolisa alfa dapat menyebabkan hemolisis sel darah merah kelinci dan domba dengan cepat hemolisa alfa disebabkan oleh jenis koagulase positif dan penting dalam patogenesis infeksi pada manusia.

Koagulase : S.aureus menghasilkan suatu kougulase protein yang mirip enzim yang dapat menggumpalkan plasma yang telah diberi oksalat atau sitrat dengan bantuan suatu faktor yang terdapat dalam banyak serum. Faktor serum bereaksi dengan kougulase untuk menghasilkan enterase dan menyebabkan aktifitas pembekuan. Kougulase dapat mengendapkan fibrin pada permukaan S. aureus. S.aureus membentuk kougulase positif dianggap mempunyai potensi menjadi patogen invasive.
Selain memproduksi koagulase, S. aureus juga dapat memproduksi berbagai toksin, diantaranya :
1. Eksotoksin-a yang sangat beracun

2. Eksotoksin-b yang terdiri dari hemosilin, yaitu suatu komponen yang dapat menyebabkan lisis pada sel darah merah.

3. Toksin F dan S, yang merupakan protein eksoseluler dan bersifat leukistik.

4. Hialuronidase, yaitu suatu enzim yang dapat memecah asam hyaluronat di dalam tenunan sehingga mempermudah penyebaran bakteri ke seluruh tubuh.
5. Grup enterotoksin yang terdiri dari protein sederhana. (Supardi dan Sukamto, 1999).
Staphylococcus aureus hidup sebagai saprofit di dalam saluran-saluran pengeluaran lendir dari tubuh manusia dan hewan-hewan seperti hidung, mulut dan tenggorokan dan dapat dikeluarkan pada waktu batuk atau bersin. Bakteri ini juga sering terdapat pada pori-pori dan permukaan kulit, kelenjar keringat dan saluran usus. Selain dapat menyebabkan intoksikasi, S. aureus juga dapat menyebabkan bermacam-macam infeksi seperti jerawat, bisul, meningitis, osteomielitis, pneumonia dan mastitis pada manusia dan hewan.

Katalase : S.aureus menghasilkan katalase yang mengubah hydrogen perioksida  Menjadi air dan oksigen. Tes katalase membedakan positif dan negatif.


K.        Isolasi Dan Diagnose
Specimen ditanam pada media isolasi Blood Agar Plate dan mannitol Salt Agar Plate
-          Masuk incubator 370 C,  selama 24 jam
Hari 2 :
-          Koloni yang tersangka staphylococcus dari Blood Agar Platen dan Mannitol Salt Agar dibuat praeparat, dilakukan pewarnaan gram
-          Kalau betul staphylococcus Gram (+), kemudian ditanam pada media Loeffler Serum, Nutrien agar, D-Nase agar dan mannitol.
-          Semuanya masukan ke incubator 370 C, selama 24 jam
Hari 3 :
-          Diamati dan dicatat pertumbuhan di media
-          Loeffler serum : berwarna kuning
-          Nutrien agar :dikerjakan Coagulase test atau staphylase test
-          D-Nase agar : dikerjakan D-Nase test
-          Gula mannitol : asam, dikerjakan catalase test
-          Kemudian hasil pengamatan media dan test-test tersebut dibandingkan dibandingkan dengan sifat-sifat cultural dan biochemisnya serta tabel, untuk ditemukan dignosa.
   Hari 4
              Amati hasil media Muller Hinton agar untuk uji sensitivitas. Dan Inkubasi 370C, 24 jam
 Uji Sensitivitas : Diameter zona hambat
-  Sensitif : > 16mm
-  Intermediet : > 13-15mm
-  Resisten : > 13mm

SKEMA PEMERIKSAAN
BAKTERI STAPHYLOCOCCUS AUREUS


Tipe-Tipe Penyakit-Penyakit Yang Disebabkan Oleh S.aureus
Infeksi-infeksi Staph dari kulit dapat berlanjut ke impetigo (pengerasan dari kulit) atau cellulitis (peradanagn dari jaringan penghubung dibawah kulit, menjurus pada pembengkakan dan kemerahan dari area itu). Pada kasus-kasus yang jarang, komplikasi yang serius yang dikenal sebagai scalded skin syndrome (lihat dibawah) dapat berkembang. Pada wanita-wanita yang menyusui, Staph dapat berakibat pada mastitis (peradangan payudara) atau bisul bernanah dari payudara. Bisul-bisul bernanah Staphylococcal dapat melepaskan bakteri-bakteri kedalam susu ibu.
Ketika bakteri-bakteri memasuki aliran darah dan menyebar ke ogan-organ lain, sejumlah infeksi-infeksi serius dapat terjadi. Staphylococcal pneumonia sebagian besar mempengaruhi orang-orang dengan penyakit paru yang mendasarinya dan dapat menjurus pada pembentukan bisul bernanah didalam paru-paru. Infeksi dari klep-klep jantung (endocarditis) dapat menjurus pada gagal jantung. Penyebaran dari Staphylococci ke tulang-tulang dapat berakibat pada peradangan yang berat/parah dari tulang-tulang dikenal sebagai osteomyelitis. Staphylococcal sepsis (infeksi yang menyebar luas dari aliran darah) adalah penyebab utama dari shock (goncangan) dan keruntuhan peredaran, menjurus pada kematian, pada orang-orang dengan luka-luka bakar yang parah pada area-area yang besar dari tubuh.
Keracunan makanan Staphylococcal adalah penyakit dari usus-usus yang menyebabkan mual, muntahdiare, dan dehidrasi. Ia disebabkan oleh memakan makanan-makanan yang dicemari dengan racun-racun yang dihasilkan oleh Staphylococcus aureus. Gejala-gejala biasanya berkembang dalam waktu satu sampai enam jam setelah memakan makanan yang tercemar. Penyakit biasanya berlangsung untuk satu sampai tiga hari dan menghilang dengan sendirinya. Pasien-pasien dengan penyakit ini adalah tidak menular, karena racun-racun tidak ditularkan dari satu orang kelainnya.
Toxic shock syndrome adalah penyakit yang disebabkan oleh racun-racun yang dikeluarkan bakteri-bakteri Staph aureus yang tumbuh dibawah kondisi-kondisi dimana ada sedikit atau tidak ada oksigen. Toxic shock syndrome dikarakteristikan oleh penimbulan tiba-tiba dari demam yang tinggi, muntah, diare, dan nyeri-nyeri otot, diikuti okeh tekanan darah rendah (hipotensi), yang dapat menjurus pada guncangan (shock) dan kematian. Mungkin ada ruam kulit yang menirukan terbakar sinar matahari, dengan terkupasnya kulit. Toxic shock syndrome pertamakali digambarkan dan masih terjadi terutama pada wanita-wanita yang bermenstruasi yang menggunakan tampons.
BAB III PENUTUP

A.     Kesimpulan
Staphylococcus aureus merupakan bakteri Gram Positif, tidak bergerak, tidak berspora dan mampu membentuk kapsul, berbentuk kokus dan tersusun seperti buah anggur. Ukuran Staphylococcus berbeda-beda tergantung pada media pertumbuhannya. Apabila ditumbuhkan pada media agar, Staphylococcus memiliki diameter 0,5-1,0 mm dengan koloni berwarna kuning.
B.     Saran
Semoga makalah yang sangat sederhana ini dapat bermanfaat bagi siapa saja yang membaca dan memerlukannya.
C.     Daftar Pustaka
Anonim. 2003. Bakteriologi Medik. Malang. FK Universitas Brawijaya, Tim Kikrobiologi FK UNIBRAW
Anonim. 2008. Penuntun Praktikum Mikrobiologi Dasar. Purwokerto. Laborataorium Mikrobiologi Fakultas Biologi
Prof. Dr. D. Dwidioseputro. 2003. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta. Djambatan
Drs. Koes Irianto. 2008. Mengenal Dunia Bakteri. Bandung. PT Pringgandani
Suwito Widodo.2010.Bakteri Yang Sering Mencemari Susu:Deteksi,Patogenesis dan Epidemologi,Dan Cara Pengendalianya.
Soemarno. Isolasi Dan Identifikasi Bakteri Klinik. Akademi Analis Kesehatan Yogyakarta. Depdiknas












1 komentar:

  1. Halo kakak :)
    Namaku Sulistia Ningsih Limbong.
    Aku juga seorang analis dari Poltekkes Negeri Medan.Mari berteman kakak :)

    BalasHapus

Google+ Followers+facebook